Tangisan Rakyat Biasa

 Seonggok nada-nada keputusasaan  selalu mendengung di telinga kita. Asa yang dulunya di junjung tinggi untuk mengubah gaya hidup seakan rapuh dan tak bisa tertata lagi. Para dewa bernyanyi diatas ketidak kuasaan para rakyat yang ingin bangkit. Mereka menganggap para rakyat biasa hanyalah budak yang terus menerus akan tunduk dan patuh dalam skema permainan mereka. Kebisuan akan rasa kesal yang tak terucap membuat semua orang yang menderita semakin jatuh dan terinjak sehingga mereka merasa kalau nyawa mereka sudah ada di genggaman para raja yang berada di balik dinding emas.
Yang kapanpun dan dimanapun bisa diputuskan oleh para raja yang tidak berhati mulia. Tak ubahnya seorang pengemis, para rakyat yang hidup dibawah kekuasaan raja yang tak berperikemanusiaan membuat mereka selalu menadahkan tangan untuk memohon belas dan kasih. Tadahan kedua tangan dan sebutir nada permohonan kepada sang saja merupakan satu kehidupan yang luar biasa bagi para rakyat biasa.
First