Bodohnya Wanita Bodoh

Keripik Pedas Maicih level 10, seperti itulah pedasnya kritikan yang mungkin saya dapatkan dari pembaca. Wanita yang identik dengan lemah lembut dan menjadi cover kesuksesan dari seorang pria seakan tidak berteduh lagi dibawah naungan kebenaran. Ma’af tapi saya harus bercerita dibawah tekanan zaman yang sudah tidak beretika yang menghina cinta dengan sejuta cela dan nista.
Malaikat tanpa sayap yang memiliki belas kasih sayang tak terbatas sudah tergariskan pada diri seorang wanita dan itu Ibu kita. Terkadang senyum manis yang disuguhkan terbaca pecah dikala sepasang bola mata yang berkata, hanya sekadar pelukis jiwa untuk memberikan cerita indah sebagai semangat hidup tak sekeras hukaman Tuhan ketika sedang marah. Murka bukan berarti marah dan cubitan manja bukan berarti tidak suka, namun semua itu memiliki nada yang tidak bisa dirasakan oleh manusia yang tak berlogika. Secara, ibu yang bergelar wanita luar biasa hanya bisa bicara dengan perasaan yang tidak berdiameter dan tak terukur dengan dalamnya samudera serta luasnya alam semesta. Berujuk cinta dengan sejuta warna dalam memeluk anak di dunia fana menunggu akhirat yang terus bergema untuk menjemput manusia di kehidupan yang tak lagi sama. 

Kini . . .
Ibu tetap ibu namun calon ibu harus memiliki karakter keibuan yang sama dengan ibu pendahulu. Tempat berteduh ketika hati mengeluh, tempat curhat ketika hati tersayat dan penyemangat ketika hati sudah merasa tidak kuat. Seharusnya seperti itu namun itu sudah terkikis dengan tingkah laku calon ibu yang tidak menentu dan terus menebar hal yang tidak bermutu. Mengisi waktu muda dengan menghibur hawa nafsu berseragam cinta berselimut seruan setan yang menipu. Bodoh, bodoh, dan bodoh itulah yang tepat diuangkapan. Bukan memihakkan kebenaran kepada anak adam dan bukan membijaknya pula dengan nasehatnya yang penuh harapan, melainkan mengusik kaum hawa untuk sadar bahwa sejatinya pria memang mahir bersilat lidah. Pria tidak akan pernah bosan menggoda hingga sukses terasa cukup untuk menggantikan waktu yang tersita namun wanita berkewajiban berbeda, memberikan efek jera dengan bahasa halus yang berbisa dan tamparan keras yang mengundang pria putus asa dengan asa yang berbalut nista. Jangan biarkan penyesalan menangis dikala gerbang bahagia seharusnya terbuka dan mereka tertawa melihat masa depanmu suram tak memiliki warna karena mengqiyaskan hukum islam yang tak pernah ada. Menghilangkan dosa dengan mensyariatkan hubungan tak biasa dengan landasan hukum yang tak bertata keislaman. Sungguh dosa bersarang di hubungan yang terbina, hingga masa yang sama-sama tidak tau batas akhirnya. Setan mendakwahkan kesesatan dalam hawa nafsu yang dibenarkan oleh mereka berdua. Menjajakan diri dengan pasangan untuk menempuh hidup selanjutnya, dari saling mengenal tatapan mata yang indah, suara yang manja, gandengan tangan simbol ikatan, pelukan untuk penimpa kerinduan, ciuman tanda saling cinta dan kehancuran untuk bukti cinta yang sejatinya hina untuk mereka yang mengaku iman kepada pencipta alam semesta. Rugi pasti tetap berpihak kepada wanita karena dia sudah memperlihatkan auratnya kepada yang belum tentu jadi imamnya. Anjing bodoh yang tak berakal andai saja mendapatkan sekali kesempatan untuk berfikir maka dia tetap akan bicara hal yang sama.

Ma’af terkesan keras dan tak beretika, dalam hati kecil hanya ingin yang terbaik untuk pembaca khususnya kaum wanita.

Baca, Renungkan, Komentar.    
Previous
Next Post »

2 komentar

Write komentar
zamsjourney
AUTHOR
22 April 2016 20.49 delete

berat bahasannya :D tapi paling suka quote tentang ini "Rugi pasti tetap berpihak kepada wanita karena dia sudah memperlihatkan auratnya kepada yang belum tentu jadi imamnya."

Reply
avatar
M Firdaus
AUTHOR
23 April 2016 06.36 delete

Dikira batu yak Mas kok berat :D
Syukur Alhamdulillah Mas klu masih ada yg disukai dri tulisan sya.

Reply
avatar