Menunggu-Mu di Ufuk Barat

Menepi dan menyandarkan tubuh sejajar dengan datarnya dinding kamar kost yang di poles dengan chat warna putih, dan waktu itu hanya sendiri. Sendiri bukan berarti tidak ada teman, bukan berarti tidak ada yang mengetahui, dan bukan berarti tidak ada yang menemani. Namun, sendiri karena ingin fokus Kepada Pemilik diri ini. Jam 17.00 masih harus menyisahkan waktu setengah jam lagi untuk memuja-Nya di istana termegah, akan tetapi merindukan-Nya dengan khayal semu yang bermakna mungkin lebih indah dari pada berjalan di tengah kota dengan lampu disco yang menyentuh mata dan sautan manusia yang kadang tidak mengenal arah kita. Menit ke detik seperti narapidana yang lari dari lapas namun tetap diburu oleh polisi, waktu terus berputar. Tidak pernah mengeluh meskipun tidak dipuji namun hadirnya memberikan arti yang sangat tinggi.
Sambil menungguNya memanggil untuk bertamu, melihat sunset di hari Minggu menjadi alternatif pengisi waktu yang kosong. Sesekali diri ini tersenyum ketika percikan sinar mentari mengenai mata, dan sekilas pikiran kecil berkata " begitu besar matahari namun kelihatan kecil dan begitu kecil manusia tapi terkadang sok besar". Alangkah tidak pantas ketika manusia yang tidak bisa berbuat apa-apa tanpa kehendak-Nya namun seakan-akan bisa memindahkan gunung yang begitu besar.
Previous
Next Post »